Featured

Kehilangan – Pertemuan

Bukannya perpisahan malah menemukan pertemuan? Kehilangan yang satu, menemukan yang lain. Mungkin karena itulah, kita jadinya gak menampung banyak ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’ di satu waktu. Silih-ganti, kurasa itu dua kata yang cocok untuk mendeskripsikan apa yang kumaksud.

Besok kehilangan ini, besoknya lagi menemukan itu. Mungkin pula, kita malah berada di keduanya: kosong. Ada beberapa orang yang sengaja menghilang agar ditemukan orang lain. Ada juga orang yang menghilang, lalu menemukan keabadian. Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Pertemuan jua, bukan awal dari segalanya. Bisa jadi, terbalik. Kehilangan adalah awal dari segalanya, dan pertemuan adalah akhir dari semuanya.

Begitulah. Ya, namanya juga…

Menteng, 10 Februari 2016

Iklan

Berpasangan = Laku?

Sudah agak gatal rasanya mau bahas ini dari dulu.

Banyak orang yang masih beranggapan bahwa orang yang berpasangan, entah pacar atau sudah menikah adalah orang-orang yang laku. Mereka (mungkin sebagian dari kita), dengan mudahnya nyeletuk, “Akhirnya laku juga lu!” atau kalimat-kalimat sejenis ke sahabatmu.

Heyhello, kita ini manusia, bukan barang dagangan.

Jadi, ga semestinya orang yang pada akhirnya menemukan tambatan hati, dibilang laku, dan orang yang belum menemukan tambatan hati gak laku.

Kecuali, kalau kamu memang berjualan untuk dirimu sendiri. Menghasilkan uang dari sana.

Menemukan pasangan (menurut sudut pandang Tikarlina di usia 25 tahun ini) adalah perkara tentang ke-pas-an. Waktu yang pas, orang yang pas, keadaan yang pas, dan lainnya. Bagaimana kalau sudah tidak pas? Maka ya, pasti gak berpasangan lagi. Atau kalaupun masih bersama, banyak keterpaksaan di sana-sini saat ngejalaninnya. Kalau dalam perjalanan mereka menemuka kepasan lagi, pasti keberatan yang pernah ada, akan lama-lama terabaikan juga.

Jadi, bukan perkara laku atau tidak laku.

Oh, ada juga kalimat, “Semoga lu nyusul, ya,” saat ada orang yang dengan tulus memberi ucapan hwd. Semua orang punya waktunya, Gengs. Perkara akhirnya memiliki tambahatan hati, bukan soal susul-menyusul doang. Pernikahan/masih tahap pacaran bukan ajang perlombaan. Inget, semua ada waktunya. Sampaikan aja, “Semoga akan datang orang yang pas di waktu yang pas.”

Semua orang punya waktunya. Waktu untuk dilahirkan, waktu untuk menemukan pasangan, waktu untuk bahagia, bersedih, belajar, menikah, sampai mati. Karena semua ada waktunya dan semua berproses di dalamnya. Tiap orang beda-beda proses waktunya. Ada yang di usia 25 tahun sudah beranak 2, ada yang sudah mati, ada yang sudah enggan menemukan hati. Waktumu, beda dengan waktuku.

Dengan perbedaan memiliki waktu untuk berproses, maka tidak usah mengucap susul-menyusul, kepo tanya kapan ini dan itu, dan lainnya. Doakan kerabatmu mendapatkan kebahagiaannya di waktu yang pas. Bisa jadi, kamu di usia 23 tahun bahagia sudah menikah. Bisa juga, aku di usia 25 tahun ini masih bahagia dengan fokus mengejar karir. Belum tentu jika aku menikah saat masih 23 tahun sepertimu, aku berbahagia seperti aku yang alami sekarang. Bisa saja itu semua beban buatku.

Kebahagiaan orang berbeda. Hargai mereka sebagai bagian dari manusia, bagian dari kita. Karena “Memanusiakan manusia”, maka tidak lagi kamu bilang, “Akhirnya laku juga, lo!” kepada kerabatmu yang ingin menikah.

Di mana nuranimu saat dengan cengengesan kaubertanya seperti itu kepada kerabatmu? 🙂

Pluit, 29 November 2018.

Apakah Ada Aku?

Aku ingin memelukmu erat. Sangat erat, sampai napas saja tersengal. Aku ingin memelukmu untuk masuk ke dalam tubuhmu, melalui celah pori-pori kulitmu dan menemukan hatimu. Apakah ada aku?

Aku ingin berbaring di pundakmu, lalu berpandangan menebar keintiman dan masuk ke dalam matamu. Apakah ada aku?

Aku ingin bercengkrama denganmu, menghabiskan puluhan malam untuk membicarakan adonan bakwan, dan masuk ke dalam isi kepalamu. Apakah ada aku?

Aku ingin berkamuflase menjadi dia. Karena ternyata, tak ada aku di kamu.

Baca juga: Kangen yang Brengse

Pluit, 02 September 2018.

Aku

Gimana mau disayang sama orang lain, kalau sama diri sendiri saja gak sayang?

Gimana mau dipeduliin orang lain, kalau sama diri sendiri saja udah gak peduli?

Sudah sejauhmana benci sama diri sendiri?

Mau sampai kapan begitu terus?

Mau kehilangan apa lagi dari yang sekarang sudah hilang?

Masih mau rusakin apa lagi untuk hidupmu?

Kapan mau bebenah diri untuk esok hari?

Kapan mau kembali bersemangat menghadapi hari baru?

Takkah kaurindu pada dirimu sendiri?

Kepada kamu yang pernah selalu membahagiakan diri sendiri

Kepada kamu yang pernah jua membahagiakan kerabatmu

Kepada kamu pernah yang memiliki harapan

Lupa artinya senang, bukan melulu harus bersedih hati, kan?

Kalau bukan dirimu sendiri yang menyayangimu, lantas siapa lagi?

Baca juga: Mantra

Pluit, 21 September 2018.

Bandung dan Laranya

Peringatan: tulisan ini 100% curhat. Gue ga peduli mereka yang gue maksud di tulisan ini baca dan berbahagia atas tulisan di bawah atau gak.

“Bu, Tika mah nanti kalo udah gede, trus udah nikah mau tinggal di Bandung, ah.”

Sejak studi wisata ke Bandung kala SMP beberapa tahun lalu, Bandung adalah kota impian. Rasanya, kalau sudah benar-benar dewasa, mau menetap di Bandung lalu masuk ke dalam hiruk-pikuknya, dan sejahtera di sana.

Iya, itu dulu. Sekarang? Udah enggak.

Bener-bener enggak!

Bandung udah gak indah lagi. Bandung udah bukan harapan. Bandung udah semacam bencana. Bencana batin.

“Maaf.”

“Oh, kamu pacarnya x juga?”

“Saya sama dia juga ada harapan ke depan.”

Setidaknya, udah ada 3 warga Bandung yang bikin gue bener-bener kapok sama Bandung. Iya, warganya yang berulah ke gue, kotanya bikin gak nyaman.

Sejak seribu satu drama itu semua, gue kapok berurusan sama warganya. Cukup.

Sejak akhir tahun lalu, dimulai dari Bandung pun, gue udah bermimpi pengin ke berbagai tempat untuk dikunjungi. Ingin melihat keindahan ciptaan Tuhan lainnya, menghargai jeri payah sendiri, bertemu banyak orang dan cerita, menjejakkan kaki dan kenangan, dan lainnya.

Hanya Bandung yang bikin gue: “Akhirnya kelar juga jalan-jalannya.”

Kalo ke tempat lain sejauh gue pergi ke berbagai Pulau Seribu, Yogyakarta, dan lainnya, batin gue selalu ingin mengulang liburan. Pengin ke tempat yang sudah dilalui. Pengin ke sana lagi. Bandung? Gak, makasih. Hehe.

Malam ini, gue baru pulang dari Bandung. Terakhir ke Bandung setahun lalu, jelas rasanya gak karuan. Kemarin dan hari ini ke Bandung lagi, rasanya piye? Tetap gak karuan. Antara sedih, kesel, marah, kecewa, dan getirnya adalah …, kangen, bersatu jadi satu, seolah mencoba meneteskan cuka di titik luka. Nyes. Auto ngilu.

Buat warga Bandung lainnya, gue minta maaf sebesar-besarnya atas tulisan ini. Ini bukan karena kota kalian jelek. Bukan. Sejak beberapa tahun terakhir bahkan sampai sekarang, gue kagum dengan laju berkembangnya Kota Kembang kalian. Ini hanya perkara luka pribadi yang ternyata memang belum kering dan sembuh.

Entah mereka yang menoreh luka di gue baca ini atau tidak, gue gak peduli. Gue juga gak mau tau urusan sekepo apa mereka sama gue lagi, meski ya …, pernah di-screenshoot IG Stories gue kemudian labrak gue seenak jidatnya, pernah juga dihubungi dan dikasih kalimat gula yang kalo dirasa, rasanya getir dan pahit sekali, ada juga yang dengan gak pake hati bilang, “Kan lo juga udah seneng-seneng sama yang di Xx,” seneng-seneng pale lu mledak?

Buat gue, bacotan mereka itu bikin sakit hati, sih. Kayak gak dimanusiain sama manusia, gitu. Bentar …, emang mereka manusia, ya?

Cileungsi, 16 September 2018

Kangen yang Brengse

Kata orang di luar sana, kalau kangen ya ketemu. Ada kangen yang emang gak hilang cuma karena temu. Kata orang juga, kangen ya ngomong. Nyatanya, ada kasus di mana setelah bilang sama yang bersangkutan tentang kangen, kangennya malah makin nambah. Ada juga yang kangennya rusuh dan mengganggu.

Jadi, bagaimana saat bertemu tapi tetap saja kangen?

Bagaimana rasanya bilang kangen, tapi yang ada kangennya malah menjadi?

Bagaimana jika kangen ini malah mengganggu si dia?

Kenapa kangen?

Terus, bagaimana menghilangkan kangen?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, selalu bermunculan di dalam kepala. Ah, selain memang kangen ini menyiksa, ternyata ada hal yang lebih menyiksa, yaitu: kangen yang gak dikangenin balik. Kangen yang malah hubungan semakin menjauh.

Menurutku, kangen ya normal. Itu bisa aja karena otak yang udah kecanduan sama hal yang dikangenin. Ohya, akutu pernah ngulas tentang penelitian kangen. Kamu bisa cek di Miss Manage Theory. Silakan dibaca dulu, setelah kamu selesai membaca ini~

Ibuku sampai sekarang, masih terus kangen sama suaminya. Ibuku selalu kangen sama aku, Si Anak Rantau.

Kangen yang luar biasa brengse ini, kadang membuat kita rela melakukan apa saja. Kangen gak cuma perkara temu. Ada kasus di mana, sedang bertemu tapi tetap kangen. Mungkin karena kangen sama kebersamaan saat dulu. Kangen sama sosoknya yang dulu.

Ada juga kangen yang sudah tidak bertemu, sudah tidak berkomunikasi, sudah menjaga jarak yang luar biasa, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain mengumbar soal kangen di dunianya sendiri. Oh, betapa kangen ini sangat brengse sekali.

Jadi, gimana buat ngatasin kangen? Cobain Miss Manage Theory, deh. Barangkali membantu hidupmu untuk lepas dari kangen~

Pluit, 07 September 2018.